Mengenai Saya

Foto saya
TAK PENTING DARI MANA DAN SIAPA KELURGANYA,KAYA ATAU KAH MISKIN. YANG PALING PENTING ADALAH PEMBUKTIAN DIRI BAHWA MEMANG KAMU MAMPU DAN PANTAS UNTUK MENDAPATKANNYA DENGAN USAHAMU SENDIRI..

Minggu, 02 September 2012


PELARIAN BULAN JUNI
‘yeahhhh………….”
“hore…….kita lulus”
Sorak-sorai kelulusan anak-anak kelas 3 SMA Bhakti memecahkan panasnya siang itu..
Tapi kesenangan itu hanya milik mereka yang lulus.di pojokan kantin ada seorang gadis belia yang sedang terduduk lesu hanya bias memandang kosong ke depan.
Gita tak seberuntung teman-temannya ,dia tidak bisa menikmati kelulusan ni.padahal dia termasuk dalam golongan anak –anak yang lumayan berprestasi di sekolahnya.tapi entahlah…
“Huh….” Hanya kesal dan umpatan yang selalu keluar dari bibirnya.
Pikirannya sedang kacau,Universitas yang dia impikan hanya tinggal bayangan dan ayahnya…
‘oh,,,tidak   …’
Tiba-tiba Gita teringat akan ayahnya dan hal apa yang akan terjadi padanya pada saat pulang nanti.ayahnya sangat bermbisi dan temperament.beliau ingin semua anaknya mengikuti jejak keluarganya menjadi seorang pengusaha sukses atau menjadi dokter.dan Gita sama sekali tidak tertarik dengan keduanya.dia lebih suka menikmati dunia yang bebas.dia lebih suka berpetualang ,mencoba semua hal yang baru dan meenyenangkan.
“Gita….” Seru caroline,Sahabat Gita sejak kelas 1 SMA,Mereka selalu duduk sebangku.               
Gita tak menghiraukan panggilan caroline karena dia masih terhanyut dalam lamunannya.Dia langsung beranjak dari tempat duduknya menuju ke gerbang sekolah.Caroline hanya bisa terpaku melihat tingkah sahabatnya itu yang mendadak berubah sejak pengumuman kelulusan dan gita tak menceritakan padanya apa yang terjadi.
Gita hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkah teman-temannya yang sedang berpesta menikmati kelulusan.bagi Gita semuanya hanya hening,gadis berambut pendek sebahu itu melengang meninggalkan hiruk pikuk sekolah .
Ia menghentikan bus yang melintas dan segera menaikinya.ia tak peduli akan kemana arah bus yang ia tumpangi .yang dia inginkan hanya bisa menikmati kesendiriannya.kamera digital yang selalu menemaninya.sambil sesekali memotret beberapa pengamen dan anak kecil yang meminta-minta di lampu meah.
“ neng,Ongkosnya…”
Segera Gita menyodorkan ongkos busnya.setelah turun dari bus .gita memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke sebuah taman .Dia membeli  beberapa cemilan dan minuman untuk menemaninya di taman.
Beep…beep….
BBM dari Caroline.” Lo dimana?lo ga pa pa khan?”
“w ga pa pa koq”
“anak-anak ngajakin  hang out nech ,ntar malam ikut ya?”
“malez,,w pgn sndiri”
Saat ini gita tak ingin bertemu dengan siapapun yang dia kenal.
“Ka,minta ka..?”Seorang gadis kecil berbadan kurus   dengan baju lusuh membuyarkan lamunannya  .
“ka..”panggil anak itu lagi.
Gita belum bisa merespon dengan sepenuhnya,antara lamunan dan nyata.
Gita memberikan seribu rupiah kepada anak itu.
“ nama kamu siapa?”spontan Gita menanyakan nama anak itu
“Runi ,Ka”jawab anak itu singkat
“mau roti ?”gita menawarkan
Dengan malu-malu anak itu mengulurkan tangannya untuk mengambil roti yang di berikan gita.
Gita menwarinya duduk dan memakan roti itu.
“ Kamu sekolah ?”Tanya Gita mulai mengajaknya mengobrol.
“ga sekolah,ka.ibu ga punya uang untuk bayar sekolah.”kania menjawab polos “ adek-adek saya ada 3,kata ibu saya harus bantu cari uang.”anak yang kira-kira berumur 10 tahun itu harus menjalani hidup yang berat ini.
Miris hati gita mendengar ucapan kania.Gita menatap dalam kepada gadis kecil itu.angannya menerawang pada masa kecilnya,dimana apa yang dia inginkan selalu bias dia dapatkan.dan dia bias menikmati bangku sekolah hingga SMA.
“ Kalau kita bias sekolah tinggi,hidup kita akan jauh lebih baik.”ibu selalu mengatakan itu pada anak-anaknya suatu malam menjelang tidur mereka.gita mempunyai satu orang kaka perempuan yang sekarang sudah menikah dan hidup di Malaysia bersama suaminya.2 orang kaka laki-laki yang masih kuliah.
Gita merasa beruntung bias mengenyam pendidikan dan tidak hidup dalam kekurangan seperti Runi.
Tiba-tiba……….
“boleh ga kaka maen ke rumah kamu?”Tanya Gita dan membuat gadis kecil itu terbengong karena tiba-tiba saja ada orang yang baru dia kenal ingin mengunjungi rumahnya.
Gita menyukai hal yang baru dan menantang.terpikir olehnya bahwa dia ingin merasakan hidup seperti kania dan anak-anak jalanan yang lainnya.
Ide gila lagi…
Setelah Runi mengiyakan dengan anggukan ,mereka berdua berjalan menuju ke rumah Runi,,kira-kira setengah jam mereka sudah sampai di rumah nya.
Betapa terkejutnya…
Jezz…..hatinya terasa ngilu dan tergetar dengan apa yang dilihat,,rumah yang begitu sederhana dan berimpit-impitan dengan rumah lainnya.
Dia memang sering melihat kehidupan di jalanan yang begitu kotor hanya lewat televisi dan sekarang dia benar-benar melihatnya sendiri.
Anak-anak kecil bertengkar dan berebut mainan yang sudah lusuh dan mungkin dipungut dari tempat sampah.baju mereka sudah tak layak pakai,tapi apa daya keluarga mereka tak mampu untuk membelikan baju baru.untuk makan saja susah.
Gita teringat dulu,saat merengek minta di belikan baju yang dia lihat di sebuah mall dan keesokan harinya ibunya langsung membelikan.betapa mudahya dia mendapatkan apa yang dia inginkan sedangkan keluarga Runi hanya bisa menikmati mainan yang sudah lusuh.Gita teringat rumah,teringat ibunya “kangen bunda “ ucapnya lirih…
Tapi Gita jadi malas pulang jika dia teringat akan ayahnya.
Malam ini Gita memutuskan untuk menginap di rumah Runi,
“lagian Eneng punya rumah gede koq mau sih nginep disini.”kata Bu  Marni,setelah Gita minta ijin untuk menginap di rumahnya.
“saya sih ga keberatan kalo neng mau nginep di sini tapi maaf yaa kalo tempatnya sempit dan banyak nyamuk .”terang bu Marni sambil melipat baju anak-anak.
“ ga apa-apa,bu.terima kasih.saya sudah biasa koq.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Gita.padahal sama sekali dia belum pernh merasakan hal ini.
Esok paginya,,,
Gita terbangun saat bu Marni sedang sholat subuh.gita segera mengambil air wudhu dan menyusul untuk sholat.seusai sholat gita berusaha untuk membantu ibu Marni. Runi dan ketiga adiknya sudah terbangun .
Pagi ini bu Marni hanya memasak nasi dan dengan lauk seadanya.hanya krupuk dan kecap yang bisa mereka nikmati untuk sarapan pagi .
Pekerjaan bu Marni hanya sebagai tukang cuci dan sesekali membantu memasak untuk hajatan tetanggannya.suami ibu Marni sudah meninggal dunia.betapa hidup Runi dan adik-adiknya tanpa menikmati kasih sayang dari seorang ayah dan harus menanggung hidup seperti ini saat seharusnya dia menikmati bermain bersama teman-temanya yang sebaya dan bersekolah.
Hufthh……….pelajaran yang begitu berharga untuk Gita.
Dia teringat kembali pada ayahnya ,betapa bersyukurnya dia masih memiliki seorang ayah yang membiayai bidupnya ,walaupun ayahnya terkadang suka marah-marah dan kaku tapi sejujurnya Gita sangat menyayangi ayahnya.dan itu menyadarkan Gita untuk segera pulang dan meminta maaf pada Ayahnya  dan akan memperbaiki semua kesalahannya.
Gita pamit pada Bu Marni dan Runi,tak lupa Gita memberikan sedikit rejeki untuk mereka.
Bu Marni sempat menolak,namun Gita memaksanya untuk menerimanya dan anggap sebagai rasa terima kasih karena di ijinkan menginap.
Gita menuju jalan raya dan menyetop sebuah bus kota yang menuju ke arah rumahnya.sebenarnya gita memiliki fasilitas antar jemput mobil ,namun dia lebih suka menikmati naik bus kota.
Sesampainya di rumah.Gita segera menemui ayahnya dan meminta maaf telah membuat ayahnya kecewa atas kejadian tersebut.ayah pun memaafkannya dan beliau tidak lagi menuntut gita untuk mengikuti keinginannya.sebenarnya beliau melakukan hal itu karena rasa sayangnya pada Gita dan untuk masa depan yang lebih baik.
Gita berjanji akan memperbaiki kesalahannya dan akan kembali melanjutkan sekolahnya.

Juni 2011
June koestantye