PELARIAN BULAN JUNI
‘yeahhhh………….”
“hore…….kita lulus”
Sorak-sorai kelulusan anak-anak kelas 3 SMA Bhakti
memecahkan panasnya siang itu..
Tapi kesenangan itu hanya milik mereka yang lulus.di
pojokan kantin ada seorang gadis belia yang sedang terduduk lesu hanya bias
memandang kosong ke depan.
Gita tak seberuntung teman-temannya ,dia tidak bisa menikmati
kelulusan ni.padahal dia termasuk dalam golongan anak –anak yang lumayan
berprestasi di sekolahnya.tapi entahlah…
“Huh….” Hanya kesal dan umpatan yang selalu keluar
dari bibirnya.
Pikirannya sedang kacau,Universitas yang dia impikan
hanya tinggal bayangan dan ayahnya…
‘oh,,,tidak …’
Tiba-tiba Gita teringat akan ayahnya dan hal apa yang
akan terjadi padanya pada saat pulang nanti.ayahnya sangat bermbisi dan
temperament.beliau ingin semua anaknya mengikuti jejak keluarganya menjadi
seorang pengusaha sukses atau menjadi dokter.dan Gita sama sekali tidak
tertarik dengan keduanya.dia lebih suka menikmati dunia yang bebas.dia lebih
suka berpetualang ,mencoba semua hal yang baru dan meenyenangkan.
“Gita….” Seru caroline,Sahabat
Gita sejak kelas 1 SMA,Mereka selalu duduk sebangku.
Gita tak menghiraukan panggilan caroline karena dia
masih terhanyut dalam lamunannya.Dia langsung beranjak dari tempat duduknya
menuju ke gerbang sekolah.Caroline hanya bisa terpaku melihat tingkah
sahabatnya itu yang mendadak berubah sejak pengumuman kelulusan dan gita tak
menceritakan padanya apa yang terjadi.
Gita hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkah
teman-temannya yang sedang berpesta menikmati kelulusan.bagi Gita semuanya
hanya hening,gadis berambut pendek sebahu itu melengang meninggalkan hiruk
pikuk sekolah .
Ia menghentikan bus yang melintas dan segera
menaikinya.ia tak peduli akan kemana arah bus yang ia tumpangi .yang dia inginkan
hanya bisa menikmati kesendiriannya.kamera digital yang selalu
menemaninya.sambil sesekali memotret beberapa pengamen dan anak kecil yang
meminta-minta di lampu meah.
“ neng,Ongkosnya…”
Segera Gita menyodorkan ongkos busnya.setelah turun
dari bus .gita memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke sebuah taman .Dia
membeli beberapa cemilan dan minuman
untuk menemaninya di taman.
Beep…beep….
BBM dari Caroline.” Lo dimana?lo ga pa pa khan?”
“w ga pa pa koq”
“anak-anak ngajakin
hang out nech ,ntar malam ikut ya?”
“malez,,w pgn sndiri”
Saat ini gita tak ingin bertemu dengan siapapun yang
dia kenal.
“Ka,minta ka..?”Seorang gadis kecil berbadan
kurus dengan baju lusuh membuyarkan
lamunannya .
“ka..”panggil anak itu lagi.
Gita belum bisa merespon dengan sepenuhnya,antara
lamunan dan nyata.
Gita memberikan seribu rupiah kepada anak itu.
“ nama kamu siapa?”spontan Gita menanyakan nama anak
itu
“Runi ,Ka”jawab anak itu singkat
“mau roti ?”gita menawarkan
Dengan malu-malu anak itu mengulurkan tangannya untuk mengambil
roti yang di berikan gita.
Gita menwarinya duduk dan memakan roti itu.
“ Kamu sekolah ?”Tanya Gita mulai mengajaknya
mengobrol.
“ga sekolah,ka.ibu ga punya uang untuk bayar
sekolah.”kania menjawab polos “ adek-adek saya ada 3,kata ibu saya harus bantu
cari uang.”anak yang kira-kira berumur 10 tahun itu harus menjalani hidup yang
berat ini.
Miris hati gita mendengar ucapan kania.Gita menatap
dalam kepada gadis kecil itu.angannya menerawang pada masa kecilnya,dimana apa
yang dia inginkan selalu bias dia dapatkan.dan dia bias menikmati bangku
sekolah hingga SMA.
“ Kalau kita bias sekolah tinggi,hidup kita akan jauh
lebih baik.”ibu selalu mengatakan itu pada anak-anaknya suatu malam menjelang
tidur mereka.gita mempunyai satu orang kaka perempuan yang sekarang sudah
menikah dan hidup di Malaysia bersama suaminya.2 orang kaka laki-laki yang
masih kuliah.
Gita merasa beruntung bias mengenyam pendidikan dan
tidak hidup dalam kekurangan seperti Runi.
Tiba-tiba……….
“boleh ga kaka maen ke rumah kamu?”Tanya Gita dan
membuat gadis kecil itu terbengong karena tiba-tiba saja ada orang yang baru
dia kenal ingin mengunjungi rumahnya.
Gita menyukai hal yang baru dan menantang.terpikir
olehnya bahwa dia ingin merasakan hidup seperti kania dan anak-anak jalanan
yang lainnya.
Ide gila lagi…
Setelah Runi mengiyakan dengan anggukan ,mereka berdua
berjalan menuju ke rumah Runi,,kira-kira setengah jam mereka sudah sampai di
rumah nya.
Betapa terkejutnya…
Jezz…..hatinya terasa ngilu dan tergetar dengan apa
yang dilihat,,rumah yang begitu sederhana dan berimpit-impitan dengan rumah
lainnya.
Dia memang sering melihat kehidupan di jalanan yang begitu
kotor hanya lewat televisi dan sekarang dia benar-benar melihatnya sendiri.
Anak-anak kecil bertengkar dan berebut mainan yang
sudah lusuh dan mungkin dipungut dari tempat sampah.baju mereka sudah tak layak
pakai,tapi apa daya keluarga mereka tak mampu untuk membelikan baju baru.untuk
makan saja susah.
Gita teringat dulu,saat merengek minta di belikan baju
yang dia lihat di sebuah mall dan keesokan harinya ibunya langsung
membelikan.betapa mudahya dia mendapatkan apa yang dia inginkan sedangkan
keluarga Runi hanya bisa menikmati mainan yang sudah lusuh.Gita teringat
rumah,teringat ibunya “kangen bunda “ ucapnya lirih…
Tapi Gita jadi malas pulang jika dia teringat akan
ayahnya.
Malam ini Gita memutuskan untuk menginap di rumah Runi,
“lagian Eneng punya rumah gede koq mau sih nginep
disini.”kata Bu Marni,setelah Gita minta
ijin untuk menginap di rumahnya.
“saya sih ga keberatan kalo neng mau nginep di sini
tapi maaf yaa kalo tempatnya sempit dan banyak nyamuk .”terang bu Marni sambil
melipat baju anak-anak.
“ ga apa-apa,bu.terima kasih.saya sudah biasa koq.”
Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Gita.padahal sama sekali dia belum
pernh merasakan hal ini.
Esok paginya,,,
Gita terbangun saat bu Marni sedang sholat subuh.gita
segera mengambil air wudhu dan menyusul untuk sholat.seusai sholat gita
berusaha untuk membantu ibu Marni. Runi dan ketiga adiknya sudah terbangun .
Pagi ini bu Marni hanya memasak nasi dan dengan lauk
seadanya.hanya krupuk dan kecap yang bisa mereka nikmati untuk sarapan pagi .
Pekerjaan bu Marni hanya sebagai tukang cuci dan
sesekali membantu memasak untuk hajatan tetanggannya.suami ibu Marni sudah meninggal
dunia.betapa hidup Runi dan adik-adiknya tanpa menikmati kasih sayang dari
seorang ayah dan harus menanggung hidup seperti ini saat seharusnya dia
menikmati bermain bersama teman-temanya yang sebaya dan bersekolah.
Hufthh……….pelajaran yang begitu berharga untuk Gita.
Dia teringat kembali pada ayahnya ,betapa bersyukurnya
dia masih memiliki seorang ayah yang membiayai bidupnya ,walaupun ayahnya
terkadang suka marah-marah dan kaku tapi sejujurnya Gita sangat menyayangi
ayahnya.dan itu menyadarkan Gita untuk segera pulang dan meminta maaf pada
Ayahnya dan akan memperbaiki semua
kesalahannya.
Gita pamit pada Bu Marni dan Runi,tak lupa Gita
memberikan sedikit rejeki untuk mereka.
Bu Marni sempat menolak,namun Gita memaksanya untuk
menerimanya dan anggap sebagai rasa terima kasih karena di ijinkan menginap.
Gita menuju jalan raya dan menyetop sebuah bus kota
yang menuju ke arah rumahnya.sebenarnya gita memiliki fasilitas antar jemput
mobil ,namun dia lebih suka menikmati naik bus kota.
Sesampainya di rumah.Gita segera menemui ayahnya dan
meminta maaf telah membuat ayahnya kecewa atas kejadian tersebut.ayah pun
memaafkannya dan beliau tidak lagi menuntut gita untuk mengikuti keinginannya.sebenarnya
beliau melakukan hal itu karena rasa sayangnya pada Gita dan untuk masa depan
yang lebih baik.
Gita berjanji akan memperbaiki kesalahannya dan akan
kembali melanjutkan sekolahnya.
Juni 2011
June koestantye
